Jumat, 27 Januari 2012

AUTISME ANAK BERKELAINAN PRILAKU.

MENGENAL ANAK AUTISME LEBIB DEKAT
Kadang kita sering melihat dan mendengar Sekolah Luar Biasa, mungkin adapula yang belum mengerti apa itu Sekolah Luar Biasa, kebanyakan pada umumnya yang belum tahu sekolah tersebut  di daerah-daerah terpencil sebut aja Perkampungan atau Desa.
Kadang kita sering dengar pengakuan seorang ibu yang punya anak berkelainan prilaku tidak secara normal anak biasanya . sebut aja Seorang anak laki laki, malik  (4 tahun) dibawa ke dokter karena tidak bisa bicara, hanya bisa mengucapkan kata  kata  satu satu.,tidak bisa diam, kadang kadang tidak dapat dikendalikan oleh orang tuanya.
 Ad waktu sedang dikandung trimester kedua, ibunya  mengalami perdarahan dan Ad  dilahirkan lebih  awal 3 minggu. Malik dilahirkan normal namun agak sesak dan pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Malik merupakan bayi mudah dirawat, tidak memerlukan banyak perhatian., jarang menangis dan  tidak rewel.
Orang tua memperhatikan bahwa Malik sejak usia 6 bulan jarang membuat kontak mata, tidak terlihat tersenyum kalau diajak bermain. Malik tidak suka digendong tampaknya lebih suka ditinggal  sendiri  di lantai dengan  satu satunya mainan putar  yang sangat disukai..Pada usia 2 tahun Malik hanya mengucapkan beberapa kata yang tidak dimengerti, Malik tidak dapat mengucapkan kata “mamah” dan Papah”. Kadang Malik menangis lama bisa sampai  sampai 1 jam dan ibunya tidak dapat menenangkan. Saat  malik usia  3  1/2 tahun  disekolahkan di Taman Kanak Kanak yang dekat rumahnya.Orang tuanya tidak menyadari bagaimana Malik berbeda dengan anak anak lain. Ad dapat bicara  kalimat pendek dan diulang ulang.Malik tertarik alat pengisap debu, alat pengering rambut atau kipas angin yang sedang berputar.Ad sering berputar putar sambil mengepakkan lengannya dan Malik tidak dapat duduk diam selama aktivitas yang tenang. Malik tidak dapat bermain dengan temannya. Guru Malik menyarankani orang tua Malik agar membawa Malik berkonsultasi dengan dokter.mengenai masalah perilakunya.

PERKEMBANGAN ANAK
 Perkembangan anak dan pertumbuhan anak termasuk dalam  tumbuh kembang anak  yang merupakan proses yang diawali dari konsepsi (pembuahan) sampai  dewasa. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar,jumlah atau dimensi pada tingkat sel,organ maupun individu. Sedangkan perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.
. Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya. Perkembangan fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan fungsional, yaitu kognitif, motorik, emosi, sosial,dan bahasa. Perkembangan pada fase awal ini akan menentukan perkembangan fase selanjutnya. Kekurangan pada salah satu aspek perkembangan dapat mempengaruhi aspek lainnya.
Perkembangan anak  terjadi pada 5 masa perkembangan:1) masa 3 tahun pertama, 2) masa kanak  kanak awal, 3) masa kanak  kanak pertengahan, 4) masa kanak kanak akhir, 5) masa remaja.
Setiap masa memiliki ciri khas dan perbedaan dalam anatomi, fisiologi, biokimia, dan karakternya.Kemajuan perkembangan anak mengikuti suatu pola yang teratur dan mempunyai variasi pola batas pencapaian dan kecepatan. Batasan usia menunjukan bahwa suatu patokan kemampuan harus dicapai pada usia tertentu. Batas ini menjadi penting dalam penilaian perkembangan, karena bila anak gagal mencapai kemampuan sesuai usianya maka harus dilakukuan  deteksi dini, penilaian yang lebih terperinci dan intervensi yang tepat.

PERKEMBANGAN  PSIKOSOSIAL  NORMAL
Perkembangan  psikososial meliputi perkembangan aspek emosi, pikiran, perilaku,   sosial dan mempelajari “anak didalam matriks sosialnya “
Salah satu teori perkembangan psikososial  yang paling banyak  dibahas adalah menurut  Erikson (1964). Ia mencoba meletakkan  hubungan antara gejala psikis dan edukatif disatu fihak dan gejala masyarakat budaya di fihak lain. Suatu kehidupan bersama ditandai oleh cara anak diasuh dalam lingkungan hidup yang wajar . Erikson menilai secara normopsikilogis dari pendekatanpsikologi sepanjang hidup.Erikson  membagi hidup manusia menjadi beberapa fase atas dasar proses tertentu beserta akibat akibatnya. Proses tadi dapat berakhir baik atau tidak baik. Bila berakhir baik dapat memperlancar perkembangan, bila tidak baik akan menghambatnya
GANGGUAN AUTISME
Autisme adalah kelainan perkembangan anak yang masuk dalam kelompok Pervasive Developmental Disorder (PDD).PDD  merupakan kelompok kelainan perkembangan  pervasif pada anak yang sifat nya  berat dan kompleks,   mengakibatkan gangguan / keterlambatan pada bidang kognitif, komunikasi, bahasa, perilaku, dan interaksi sosial.
Autisme adalah kelainan perkembangan sehingga gangguan bila tidak diatasi akan mengikuti sepanjang kehidupannya dan dapat bersifat kronis, tergantung inteligensi dan kemampuan berbahasa.
Secara garis besar kriteria diagnostik untuk Autisme (lihat lampiran 1 : Kriteria Diagnostik untuk Autisme menurut DSM  IV) sebagai berikut :
•    Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik
•    Gangguan kualitatif dalam komunikasi dan bahasa verbal dan non verbal.
Defisit dan penyimpangan yang jelas dalam perkembangan bahasa adalah salah satu kriteria utama diagnosa Autisme.
•    Pola perilaku, bermain, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik
•    Terdapat keterlambatan atau fungsi abnormal pada sekurangnya satu bidang  berikut, dengan onset sebelum usia 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik atau imaginatif.
.
PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK DENGAN  AUTISME DAN MASALAH YANG MEMPENGARUHINYA. :
Biasanya gejala Autisme mulai muncul sebelum usia 3 tahun dan ditandai dengan kegagalan dalam interaksi sosial karena kegagalan perkembangan berbahasa dan kegagalan dalam menjalin hubungan dengan orang tuanya.Kondisi ini biasanya yang menyebabkan orang tua mencari pertolongan kepada tenaga profesional.
Pada umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi  pada awal kehidupan, dan menyebabkan disfungsi yang persisten.
Perkembangan psikososial anak dengan Autisme terganggu karena terdapat berbagai hambatan pada awal kehidupan anak yang  akan  mempengaruhi proses.
tumbuh kembang anak selanjutnya,  Hambatan dan  perkembangan psikososial pada anak dengan Autisme antara lain :
1)    Hambatan kualitatif dalam interaksi sosial :
•    Semua anak  Autisme tidak mampu berhubungan  secara normal baik dengan orang tua maupun dengan orang lain. Ia seakan akan tidak mengenali ataupun membedakan orang orang penting dalam kehidupannya,seperti orang tua, saudara, dan pengasuh. Juga tampak tidak ada cemas perpisahan walau ia ditinggalkan sendiri di dalam suatu lingkungan dan orang  yang masih asing baginya.
•    Saat bayi, anak  Autisme mungkin akan terbaring asyik di boksnya atau asyik bermain sendiri selama berjam-jam tanpa menangis ataupun membutuhkan orang tuanya, sehingga awalnya orang tua mengira ia anak yang manis dan mudah diatur. Namun ada  juga  yang  sebaliknya, justru sangat rewel dan sering menangis / cengeng.
Anak menolak untuk dipeluk dan disayang, lebih senang menyendiri, tidak tertarik kepada anak lain,tidak mampu untuk memahami aturan aturan yang berlaku, kurang responsif terhadap isyarat  sosial seperti kontak mata atau senyuman.
•    Saat memasuki usia sekolah, mungkin perilaku menarik dirinya  akan berkurang  atau menjadi tidak nyata lagi, terutama pada anak Autisme yang mempunyai fungsi lebih baik. Namun ia masih sulit  untuk dapat  bermain  dengan anak sebayanya, tidak dapat berteman, sosialisasinya buruk dan tidak sesuai, serta yang utama ia tidak dapat berempati.
•    Saat remaja akhir, anak Autisme yang berkembang baik, sering menunjukkan keinginan untuk berteman, namun pendekatannya yang aneh dan ketidak mampuannya untuk bereaksi terhadap keinginan, emosi, dan perasaan orang lain merupakan kendala besar dalam membina hubungan dengan teman. Saat remaja dan saat dewasa,individu  dengan Autisme, mempunyai keinginan seksual, tapi kemampuannya untuk bersosialisasi merupakan hambatan dalam mengembangkan hubungan yang bersifat seksual. Sangat jarang individu dengan Autisme menikah.
2)    Hambatan dalam komunikasi dan bahasa
•    Kekurangan dan penyimpangan yang nyata dalam perkembangan berbahasa merupakan  salah satu kriteria utama untuk menegakan diagnosis Autisme.
•    Komunikasi : kemampuan berbahasa berkembang sangat lambat atau tidak sama sekali. Mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain, meniru (membeo), nada suara yang monoton, tidak dapat bereaksi timbal balik dalam pembicaraan.
•    Mengoceh pada tahun pertama kehidupan tampak kurang dibanding anak lain seusianya.
•    Biasanya mereka tidak menunjuk atau memakai gerakkan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tapi dengan mengambil tangan orangtuanya / orang lain untuk mengambil objek yang dimaksud.
•    Sukar untuk memahami arti kata-kata dan sukar menggunakan bahasa dalam konteks yang benar.
•    Berbeda dengan anak normal seusianya yang kemampuan dan pemahaman bahasa reseptifnya telah berkembang dengan baik sebelum mereka bisa bicara, pada anak autisme yang verbal tampaknya mereka berbicara tanpa memahami arti kata tersebt.
•    Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah ia dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi.
•    Namun ada kata-kata atu kalimat yang kadang-kadang muncul, kadang-kadang menghilang dari perbendaharaan katanya.
•    Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, ‘saya’ jadi ‘kamu;, dan menyebut diri sendiri sebagai “kamu”.
•    Dalam tahun pertama kehidupan mungkin menurun atau abnormal banyaknya dan frekuensi celoteh anak dengan Autisme. Beberapa anak mengeluarkan bunyi – bunyi klik, suara, pekikan , dan suku kata tanpa arti dalam cara stereotipik tanpa terlihat minat untuk berkomunikasi.
•    Anak dengan Autisme mungkin lebih banyak berkata dari pada yang dimengertinya. Kata kata bahkan hampir seluruh kalimat mungkin didalam atau diluar pembendaharaan anak, anak dengan Autisme mungkin menggunakan suatu kata dan tidak mengatakannya lagi dalam seminggu, sebulan atau beberapa tahun. Mereka dapat bicara ekolalia baik segera atau terlambat, atau frase stereotipik diluar konteks.
•    Kadang pada anak dengan Autisme terdapat kesulitan dalam artikulasi, terdapat kualitas dan irama suara yang aneh.50 % anak dengan Autisme tidak pernah menggunakan pembicaraan yang berguna.
3)    Hambatan dalam bermain :
•    Abnormalitas dalam bermain seperti stereotipik, diulang-ulang dan tidak kreatif. Tidak menggunakan mainan sesuai fungsinya. Lebih menyukai benda-benda yang bukan mainan (toys), misal : botol bekas shampoo, minyak wangi, kaleng bekas, kotak bekas makanan, dan lain-lain.
•    Kurang dapat bermain spontan atau imajinatif.
•    Tidak meniru orang lain / imitasi.
•    Sulit untuk bermain berpura-pura.
•    Anak dengan Autisme tidak dapat meniru atau menggunakan pantomim abstrak. Aktivitas dan permainan anak Autisme jika ada biasanya kaku, berulang dan monoton.Anak Autisme biasanya tidak tahan terhadap transisi dan perubahan, bila merupakan kebalikan dari rutinitas mungkin menyebabkan panik atau temper tantrum. Kondisi yang berubah tersebut seperti pindah kerumah baru, memindahkan perabotan didalam ruangan, merubah arah jalan yang biasa dilalui
•    Pada anak dengan Autisme pada tahun pertama kehidupan tidak menunjukan  atau sedikit menunjukan permainan yang dieksplorasi yang biasa diperlihatkan oleh anak normal. Mainan dan benda  benda sering dimanipulasi    dengan  cara yang tidak seharusnya, sedikit variasi, sedikit kreativitas dan imaginasi, dan sedikit ciri simbolik.

4)    Gangguan perilaku motorik :
•    Stereotipik (gerakan-gerakan badan yang berulang) seperti bertepuk-tepuk tangan, hand-flapping (mengepak-ngepakkan tangan), rocking (duduk sambil mengayun-ayunkan badan ke depan – ke belakang).
•    Hiperaktivitas biasa terjadi pada anak usia pra-sekolah atau sebaliknya justru sangat pasif.
•    Koordinasi motorik yang terganggu, misal tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, mengancing baju.
•    Tantrum (mengamuk) tanpa sebab yang jelas.
•    Agresif atau self-injury.
•    Kesulitan berubah terhadap rutinitas.
5)    Respon abnormal terhadap perangsangan indera :
•    Mungkin hiper/hipo sensitif (dengan bermacam tingkatan) pada penglihatan, pendengaran, perabaan/sentuhan, penciuman dan pengecapan.
6)    Gangguan emosi/ alam perasaan dan afek:
•    Beberapa anak menunjukkan perubahan perasaan yang tiba-tiba, mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas atau  tidak mengekspresikan sesuai dengan keadaan
•    Rasa takut yang sangat kadang-kadang muncul terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan.
•    Keterikatan pada benda-benda tertentu.
•    Cemas perpisahan yang berat, juga depresi berat bisa timbul.

7)    Fungsi intelektual :
•    Sekitar 40 % anak dengan autisme masa kanak mempunyai IQ di bawah skor 50 – 55 (retardasi mental sedang, berat, atau sangat berat).
•    30 % mempunyai skor 50 – 70 (retardasi mental ringan).
•    30 % mempunyai skor 70 atau lebih.
•    Penelitian epidemiologik dan klinik menunjukkan seperlima dari anak autisme mempunyai intelegensi non-verbal yang normal.
•    Skor IQ pada anak autisme lebih mencerminkan adanya problem pada kemampuan berbicara verbal dengan runtun dan abstraksi.
•    Kemampuan kognitif atau visuomotor yang tidak biasa atau precocious dapat terjadi pada beberapa anak autisme, misal yang disebut idiot or autistic savants, yang mempunyai daya ingat dan kemampuan berhitung luar biasa, di atas kemampuan anak sebayanya. Kemampuan precocious lain pada anak autistik adalah yang disebut hyperlexia, suatu kemampuan membaca awal yang baik (walaupun mereka tidak memahami apa yang dibacanya), kemampuan mengingat dan menceritakan kembali/membaca puisi, kemampuan musikal (menyanyi atau memainkan alat musik).

•    SIMPULAN
•    Pengertian mengenai perkembangan psikososial anak  Autisme akan membantu kita lebih memahami      Autisme.
•     Gangguan interaksi sosial merupakan gejala penting  yang harus diketahui oleh orang tua  sehingga diharapkan anak anak dengan Autisme dapat terdeteksi lebih dini untuk selanjutnya  segera melakukan intervensi dini yang tepat, termasuk melakukan “social skill training “ sehingga dapat lebih mendukung penanganan  optimal  anak  Autisme.

1 komentar:

  1. Play free slot machine games at Choo Casino Online
    Play 바카라사이트 free online slot machine games 바카라 사이트 at Choo Casino Online. Enjoy over 200 free slots and choegocasino casino games including blackjack, roulette, video poker,

    BalasHapus